Tidak Menemukan Jawaban Lainnya

Memikirkan tentang rasa kecewa, tentu bukan hanya kita yang pernah merasakannya, bahkan tentu bukan hanya kita yang merasa kecewa saat terlibat dalam suatu masalah bersama. Setiap masalah aku yakin sama seperti peperangan yang bukan hanya akan melukai secara fisik tetapi juga batin, yang akan melukai bukan hanya satu pihak tapi banyak pihak, semua pihak.

Rasa kecewa pasti selalu ada, karena manusia selalu memiliki harapan, perbedaan yang terjadi antara harapan dengan kenyataan tentu akan membawa yang namanya kekecewaan. Entah apa yang akan aku lakukan, saat ini berpikir tentang satu tindakan, yang aku sendiri merasa bahwa itu egois, bodoh, menghindar, entahlah, tapi saat ini hanya benar-benar bisa memikirkan hal semacam itu.

Satu hal yang aku pikirkan akan terjadi bila memang itu aku lakukan, entah benar atau tidak tapi sedikit banyak hal itu pasti akan membawa yang namanya rasa kecewa tanpa aku harapkan. Banyak, sangat banyak orang yang kita kenal, tidak mungkin semua yang orang lain harapkan bisa kita penuhi. Aku sadar ini bukan tentang tidak sempurna, tapi manusia itu berbeda-beda, sifat, jenis dan segala macamnya, kita tentu tidak bisa membawa kepuasan semua orang, pengharapan semua orang pada diri kita sendiri. Bahkan, sering kali aku juga kecewa kepada diri sendiri.

Aku bukan tidak berniat menyelesaikan masalah ini, tapi yang saat ini dapat aku pikirkan hanyalah menyelesaikannya dan pergi jauh entah untuk kembali lagi atau tidak, bodoh sungguh bodoh aku rasa, aku memang sangat ingin untuk menjauh dan pergi dari semua hal itu, tapi jujur dari hati terdalam masih ada bagian yang aku tak rela untuk melepaskannya. Bagaimanapun kenangan itu bukan aku maksudkan untuk aku buang, banyak hal yang berubah setelah semuanya berlalu, setelah semua yang aku jalani, aku tidak menyesalinya. Sungguh mengenal hal itu adalah suatu kebahagian terbesar dalam hidupku, mungkin tidak sepenuhnya menuntun arah kehidupanku, tapi sudah cukup menjadi pedoman yang sangat, sangat berarti.

Aku tidak mungkin melepaskannya, tidak mungkin melupakannya, tapi semua tindakan dan cara yang mungkin salah, membuat keadaan berubah menjadi tidak menyenangkan dan tidak nyaman saat harus berada dalam lingkungan yang seperti itu, aku hanya berpikir aku harus pergi hanya dapat menyimpulkan secara sepihak dan semudah itu. Entah apakah akan ada yang kecewa akan pilihan ini, apa kau akan kecewa?

Aku bukan pergi untuk lari, aku bukan pergi untuk tidak kembali, saat ini hal yang paling cocok aku rasakan untuk dilakukan adalah mengalihkan kegiatan di jam lain yang akan meminimalisasi kemungkinan untuk bertemu. Arghh terkadang kalau aku pikirkan lebih jauh lagi, kenapa jadi seperti ini? Bukan mencari kesalahan orang lain, bukan, bukan. Aku sedang memikirkan kenapa aku memilih untuk menghindari semuanya, kenapa? Aku sudah memutuskan untuk menyelesaikan semua yang sudah terlanjur terjadi, apapun itu mari kita selesaikan, lupakan. Tapi tidak untuk memulai segala sesuatunya kembali.

Oh, yaampun serasa macam anak muda galau yang gak punya kerjaan lain, karena hal-hal serperti masalah ini terasa bukan lagi masalah yang harusnya aku pikirkan, bukan lagi masalah utama dalam kehidupan yang harus menyita perhatian lebih.

Ada rasa bila memang ingin pergi, kenapa tidak pergi sekarang saja, hanya saja keadaan sepertinya akn bertambah keruh bila aku hanya menghindari untuk menghadapi semua ini, yah, jadi yang bisa aku pikirka adalah menyelesaikan apa yang sudah menjadi masalah, tapi menjauh agar tak ada lagi masalah selanjutnya. Hahahah, kalau dipikir-pikir lagi macam pengecut yang hilang, hello tapi tidak lah karena aku tidak berniat meninggalkan masalah ini.

Kesimpulan akhir yang bisa aku katakan lagi-lagi hanya semua sudah tidak terasa nyaman, bukan masalah baru. Hal semacam ini sudah berlangsung kalau dihitung-hitung sudah memasuki tahun ke dua. Yaampun, masalah yang sudah berlarut-larut. Oke, karena masalah ini tidak selalu datang, kadang prinsip kita bukan selalu tidak sama, hanya saja kebanyakan tidak sama.

Selalu muncul perasaan ingin pergi, dan perasaan tidak rela secara bersamaan. Saat ini hanya keputusan itu yang menurutku lebih baik untuk dilakukan. Entahlah, mungkin ini hanya emosi sesaat, emosi dimana tidak suka untuk berkumpul bersama untuk melakukan sesuatu yang remeh temeh bukan menganggap enteng atau rendah, hanya saja saat tekanan tugas dan beberapa kewajiban lain yang terpikirkan, tapi belu terselesaikan itu menumpuk aku rasa kumpul hanya untuk sekedar berbincang ramah tamah berjam-jam bukanlah kegiatan yang menyenangkan, mungkin semua akan terasa berbeda saat tekanan ini juga tak lagi sama. Tapi aku rasa bila aku terus jutek, cuek, menyebalkan sampai saat itu tiba semua juga tidak akan kembali sama. Oke!

Mungkin aku juga terlalu memandang serius, aku serius? hahah terdengar aneh kalau aku bisa serius. Hmm, memilih menjadi manusia individualis tentu tidak baik, aku menyadarinya juga, hanya saja kau tidak bisa akrab dalam suatu keramaian, dan tidak bisa akrab dalam keramaian yang belum aku terima dan pahami. Aku menyadari satu hal, aku akan konyol, manja, kekanak-kanakkan, selalu bercanda, dan hal-hal sejenis itu hanya pada orang yang sudah aku percaya, dalam hal bagaimana aku mendeskripsikan ini.

Oke lupakan!
Kesimpulan yang didapat saat ini juga adalah menghindar, menjauh.

Maka, maaf untuk semua kesalahan yang pernah terjadi, maaf untuk kesalahan yang sepertinya akan terjadi, semua mungkin akan salah paham, dan aku juga akan salah karena tidak berusaha meluruskan apa yang salah hanya karena merasa bahwa tak ada gunanya semua itu diperbaki, karena kita hanya akan berakhir dengan kata berpisah. Tapi perpisahan secara baik-baik yang akan aku pilih. Pilihan ini aku pilih sekarang hanya satu alasan, perbedaan rasa, perbedaan prinsip, apa kita masih bisa bersama? Kita tentu bukan menjadi musuh yang saling membuang muka dan saling tidak kenal, hanya saja kita tidak akan menjadi sahabat dan saudara kepercayaan yang saling berbagi kisah, keluh kesah dan masalah.

Semua masalah ini aku harap tidak akan membawaku pada pembelokkan hati dan rasa percaya, karena aku masih akan membina diri di setiap kehidupan yang akan aku lalui, sampai tercapinya apa yang aku harapkan.

Sekian terimakasih, Bye!

Dilema Sendiri

Lagi, yah lagi-lagi hanya tentang curhatan tak berarti dari diriku tentang kehidupan yang terasa semakin tidak jelas diakhir tahun ini, perasaan seakan-akan kembali mengambil alih dan satu hal yang selalu aku lakukan saat aku berubah menjadi aneh karena perasaan yang aneh adalah menulis. Sebuah metode yang aku sadari, ah mungkin tidak bisa aku bilang aku sadari, aku suka menulis, menulis apa saja tentang perasaan yang aku alami, tapi aku menyadari bahwa kegiatan ini bisa meringankan perasaanku bukan karena aku menyadarinya sendiri, tapi karena celetukan singkat dari orang yang aku rindukan saat ini, yang berkata "kenapa tidak menulis aja ci, aku biasanya bisa lebih baik setelah menulis." Yahhh dan jadilah aku sekarang yang suka "nyampah" di blog saat perasaan benar-benar tidak baik, atau perasaan benar-benar gembira.

Well, sebenarnya kalau dipikir-pikir semua tulisan "nyampah" ini kebanyakan bahkan hampir semuanya adalah keluh kesah, bukan tidak percaya pada orang lain tentang apa yang akan aku ceritakan, bukan tidak punya tempat bercerita, tapi saat menulis dan memikirkan apa yang aku rasakan, hanya menulis, apapun yang terlintas aku merasa sedikit demi sedikit juga berusaha mendalami perasaanku sendiri, berusaha mengerti apa yang aku rasakan sedikit demi sedikit dan lagi aku juga bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan pendapat secara lisan, karena saat berbicara secara langsung aku merasa tidak punya cukup waktu untuk merasakan apa yang aku rasakan, aku tidak punya cukup waktu untuk berpikir apa yang akan aku ungkapkan apakah baik, buruk, menyakitkan orang lain, merendahkan, mengecewakan, benar yang aku rasakan atau bukan. Banyak sangat banyak hal yang menjadi tidak terungkapkan saat aku harus menyampaikannya secara lisan, tapi saat menulis seperti ini, dimana aku tidak tahu, tidak mengerti apa yang sesungguhnya ingin aku sampaikan, aku hanya merasa harus menulis, aku hanya merasa sedih, kecewa, dan banyak hal lainnya. Menulis sembari memikirkan apa yang aku rasakan, perlahan-lahan dan lama-lama jadi nangis sendiri, menyedihkan? Apa itu sesuatu yang menyedihkan menyadari bahwa kau selalu sendiri? Apa itu lebih buruk dari pada perasaan bahwa kau kesepian? Hahahah, tapi aku sedang tidak berniat membahas mengenai apa itu kesendirian dan apa itu kesepian.

Aku mungkin seperti tidak percaya pada orang lain untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan, tapi seseorang yang mampu mengerti mungkin akan melihat dari apa yang aku tampilkan, bahasa tubuhku selalu tidak terkendali saat perasaan begitu membuncah, aku akan selalu jadi orang yang berusaha tersenyum dan membuat lelucon aneh, bukan untuk membuat aku sendiri tertawa, walau terkadang lelucon itu memang benar-benar lucu, tapi semua itu lebih kepada aku ingin mengalihkan perasaan entah itu sedih, kecewa atau marah pada hal lain.

Aku tidak memahami masalah seperti apa sesungguhnya yang sedang terjadi dan mulai berlarut-larut ini, aku tidak memahami tidak bisa memahami, tidak bisa mengerti, tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi satu hal aku selalu ingin kabur dari masalah yang ada, aku sadar menghindar tidak akan membawa penyelesaian, bahkan sudah ada satu tulisan khusus yang membahas mengenai kebiasaanku untuk menghindar.

Selalu, aku selalu kabur saat ada masalah, bukan tidak ingin menyelesaikannya, bukan sungguh ingin mengabaikannya, hanya saja saat aku terlalu emosi, entah itu marah, sedih, kecewa, bahagia, aku tidak benar-benar bisa mengerti masalah apa yang sedang aku hadapi, aku tidak benar-benar bisa melihat dari sisi orang lain yang memilih suatu tindakan yang membuat aku sedih, marah atau kecewa kenapa ia memilih hal tersebut, aku tidak bisa berpikiran jernih dan memaklumi sesuatu untuk kebaikan bahkan walau itu bertujuan untuk kebaikanku sendiri. Aku egois, aku bukan mengaku aku egois, aku bukan mengelak aku egois, tapi kenyataan adalah aku egois, aku bodoh, dan semakin egois serta bodoh saat aku emosi.

Emosi yang mengerikan, sungguh mengerikan, aku sudah sering kali mengalaminya, sudah beberapa kali menjadi masalah besar karenanya, berpisah, salah paham, menjauh, berubah karena emosi. Aku sadar, aku tidak mau lagi, bukan tidak mau emosi, bukan tidak mau egois, aku rasa sulit pastinya menghilangkan perasaan semacam itu, tapi aku hanya akan menjauh saat aku seperti itu, setelahnya aku hanya bisa bilang maaf. Entah kamu akan mengerti dan memaafkannya atau tidak.

Aku egois, maafkan aku. Aku bukan berharap kau memahami, tapi sungguh beruntung saat kau mau mengajak untuk berbicara terbuka satu sama lain tentang apa yang aku rasakan, aku sadar bahwa KITA lebih berharga dari EMOSI SESAAT itu. Aku tahu tak ada yang abadi, aku sadar tak ada yang kekal, segala sesuatu punya masa, segala hal bisa rusak, tapi sebagian hal bisa diperbaiki, sebagian lagi bisa dialih fungsikan, sebagian lainnya mungkin perlu pengolahan lebih lanjut, tidak ada hal yang sungguh-sungguh tidak dapat berguna lagi, mungkin ia memang tidak berguna lagi saat ini, tapi kalau kita mau meluangkan sedikit waktu untuk menambah sedikit saja nilai gunanya ia dapat digunakan lagi menjadi sesuatu hal yang mungkin berbeda dari fungsi awalnya.

Yahh, and well bukan itu yang mau aku bahas, tapi pembahasan tadi menyerempet pada hal seperti itu. Perpisahan itu mungkin takdir, mungkin jalannya, aku yang menjauh darinya, kita yang dahulu pernah dekat, kita yang dahulu bersama, ada saatnya kebersamaan itu bukan tidak bisa terjalin lagi, tapi kebersamaan itu harus memiliki status yang tidak lagi sama, aku pernah dan masih teringat jelas akan hal itu, lalu aku sadar aku tidak mau lagi. Menekan perasaan sendiri itu menyakitkan, terima kasih karena sudah mau bertanya tentang apa yang aku rasakan. Itu sungguh meringankan.

Masa lalu bukanlah hanya sebuah masa lalu, masa lalu bukannya tidak berharga karena dengan adanya masa lalulah, ada diri kita yang sekarang. Kita yang sekarang tidak lagi saling dekat, tidak lagi saling mengabari, tidak lagi saling bercerita, aku sadar dulu kita dekat, tapi dulu kita tidak akrab, hahaha, yahh, aku dengan ceritaku, kamu dengan ceritamu yang tidak pernah kau ungkapkan secara terbuka, tapi dulu kita dekat. Sekarang kita bukan tidak dekat, aku tahu kamu masih peduli, aku tahu kamu masih menanyakan kabar, tapi terlalu gengsi untuk bertanya langsung, terima kasih masih tetap memikirkanku, dan aku sekarang tidak mau lagi menjadi canggung karena perpisahan, aku memilih apa yang akan aku ambil, aku memilih bagaimana harus bertindak, tapi bagaimanapun aku tetap perlu cara yang sama seperti dulu, aku perlu waktu, aku perlu menghindar, aku perlu menjauh.

Tapi aku sadar bahwa kali ini aku akan kembali, aku sadar bahwa kali ini aku tidak ingin terputus, aku hanya perlu sedikit ruang untuk bergerak menggeliat, menarik napas, dan aku butuh banyak waktu untuk memikirkan semuanya kembali, aku harap tidak ada luka yang membekas diantara kita, karena luka pasti selalu ada dari interaksi yang saling bergesekan. Karena semua anak yang belajar berjalan pun perlu untuk belajar terjatuh, bukan agar ia merasakan sakit, bukan sengaja agar ia terluka, tapi agar ia belajar untuk selalu bangkit, bukan berharap pada adanya kesempatan kedua, tapi belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Masa lalu bukan tentang biarlah semua berlalu, masa lalu bukan hanya tentang apa yang membentuk kita saat ini, masa lalu bukan hanya kenangan tapi juga pelajaran.

Saat bersama, saat-saat bersama itu mungkin sudah aku lupakan, bagaimana rasanya, bagaimana keceriaan kita, saling ejek, saling cela, saling menyindir, saling bercanda, saling BERSAMA. Bukan tentang kehilangan kebersamaan itu, entah lah aku hanya berpendapat, aku tidak menutup pintu pertemanan, tapi aku mungkin menutup diri sendiri tanpa aku sadari, seakan-akan usaha perlindungan diri secara refleks, yaahhh.. whatever I said.

Aku bukan tidak berharap kita kembali, tapi aku juga bukan berharap kita kembali. Bagaimana aku mengungkapkan hal ini, kita tetap bisa berteman, tapi bukan berarti selalu bersama, kita tetap akan bersama, tapi bukan berarti akan seakrab dulu. Sungguh ini bukan membahas dendam, atau setelah kecewa tak ada lagi yang sama, entahlah lagi aku juga tidak yakin sepenuhnya, tapi pikiranku meyakini itu, semua ini bukan masalah hal itu, sungguh, aku hanya merasa sudah tidak cocok, aku hanya merasa bukan itu jalan yang aku mau, maaf saja, aku tidak berharap bermusuhan, sungguh ini sungguh, aku meyakininya, tapi aku juga tidak bisa kembali sama, bukan tidak bisa, atau bagaimana, haaahhh, bagaimana kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Aku hanya merasa menemukan jalan, aku hanya merasa memilih jalan, dan hal itu tidak sejalan dengan yang lainnya untuk banyak hal, jadi akan ada banyak banyakkk sekali hal yang tidak bisa kita lakukan bersama, bukan karena aku berusaha menjauh, bukan karena aku bermusuhan, bukan karena dendam, tapi yah karena aku merasa prinsip kita berbeda, aku tidak bersenang-senang dengna cara itu, maaf bukan itu salah, atau bagaimana tapi satu ungkapan yang bisa aku katakan adalah AKU TIDAK NYAMAN dengan pilihan itu bila harus aku lakukan.

Aku bukan makhluk sosialita, aku bukan pula yang selalu sendiri, aku mau berteman dengan siapa saja, oke mungkin aku pemilih tanpa aku sadari, tapi aku hanya perlu satu yang membuat nyaman, bukan melupakan yang lain, hanya saja saat aku mempunyai pilihan dan tempat aku bisa merasa nyaman tentu aku tidak akan mencoba-coba lagi ditempat lain yang aku belum tahu apalagi mencoba-coba lagi ditempat yang sudah aku tahu berbeda jalan dan membuat tidak nyaman.

Kita berbeda pilihan untuk hal ini, bukan berarti kita harus bermusuhan bukan, kita mungkin sama untuk prinsip lainnya, Siapa yang tahu, kau dengan kehidupanmu, maaf saja untuk saat-saat emosi aku hanya akan bilang aku tidak peduli terserah pada pilihanmu, mungkin itu sungguh-sungguh apa yang aku rasakan, tapi dilain masalah aku mungkin akan peduli, bukan tentang plin-plan, egois atau apa, tentu saja aku pun terbatas, satu diri, satu pikiran, 24 jam waktu, tidak semua hal bisa aku lakukan, tidak semua hal bisa aku pikirkan, maaf tapi itu adahal hal yang wajib menjadi pilihan.

Aku masih belum tercerahkan akan hal yang muter-muter ini, emosi masih ada dan yang dirasakan hanya bagaimana menjadi identitas baru, pergi dari semuanya, meninggalkan semuanya dan oke bye pada maslaha itu, tapi tidak bisa kan, apa yang tidak aku selesaikan sekarang nantinya hanya akan kembali datang dan kalau ibarat pinjaman yang belum dilunasi malah akan berbunga dan semakin besar, tapi aku belum bisa berpikir saat ini.


Haaaahh, hanya ingin pergi jauh, seandainya ini games bisa reset dan kembali baru.
Hahahah, hidup itu mempermainkan saya bukan?

Air Mata kah? Hujan kah?

Disaat bumi menangis ataupun berpeluh
Aku hanya memandanginya dengan pilu
Atau aku akan masuk kedalamnya dan membiarkan semua air itu juga membasahiku

Berjalan dalam air matamu
Berjalan dalam peluhmu
Berjalan dalam air

Apa yang aku harapkan?
Apa yang aku inginkan?

Hanya berharap air mata kita mampu bersatu
Berbaur menjadi satu
Hanya berharap tak ada yang mampu mengenali
Siapa diantara kita sesungguhnya yang menangis

Air matamu kah itu?
Air mataku kah itu?

Biarkan kita bersatu, tetap seperti ini
Biarkan saat ini
Sebentar saja begini

Biarkan tak ada yang mampu membedakan
Mata penuh luka di dalam hati
Dengan mata yang terluka karena hujan yang membasahi

Biarkan tak ada yang mampu membedakan
Pipi yang basah karena tangis
Dengan pipi yang basah karena hujan yang mengaliri

Biarkan seperti ini
Sesaat saja seperti ini
Aku butuh tempat untuk bersembunyi
Saat air mata ini tak mampu ku bendung lagi

Terima kasih langit
Mungkin bukan inginmu menangis bersama
Mungkin bukan inginmu berpeluh bersama
Tapi terima kasih untuk mau menutupi aku yang tak sempurna
Aku yang lemah tapi tak mau tampak lemah


Komunikasi (Gak Penting) tapi Sangat Berarti Bagiku

Salah..

Aku merasa aku salah bila terus seperti ini menekan semua rasa yang ada entah itu bahagia, sedih, kecewa atuapun marah.

Tertawa dengan tidak tulus
Tangis yang selalu ditahan
Dan berpura-pura biasa saja atas apa yang dirasakan

Aku marah, aku sedih, aku kecewa

Ingin mengungkapkan semua yang ada, kenapa harus selalu dipendam, kenapa harus tampak sempurna kuat dan tegar? Aku tak sekuat itu, aku terluka, aku sakit hati, aku ingin menangis dan mengakhiri semua.

Kenapa semuanya selalu aku tahan selama ini, kenapa tidak boleh terlihat kecewa, kenapa tidak boleh mengungkapan kemarahan yang ada, kenapa harus memikirkan apa yang orang lain akan rasakan atau pikirkan bila kita bertindak seperti apa?
Aku menyadari aku lemah, aku salah tapi aku selalu saja berusaha tampak bahwa semua baik-baik saja, selalu saja berkata tak ada apa-apa. Kenapa harus menutupi semuanya?

Karena sejujurnya aku tak sekuat itu, aku tak sedewasa itu aku lemah dan kekanak-kanakan. Aku ingin bisa menangis aku ingin bisa marah aku ingin bisa menolak dan berteriak lantang. Tak ingin lagi memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang diriku.

Hanya dapat terpikirkan satu cara bahwa aku harus pergi jauh dari semua, tak berada di dekat mereka artinya aku tak akan menyakiti siapapun bukan? Apakah ini kabur dan menghindar?

"Karena sesungguhnya ini hanya kebohongan belaka, hanya satu orang yang paling tak ingin kau sakiti yaitu dirimu sendiri, dan kamu selalu lari dari semua hal yang menurutmu menyakitkan. Kenapa harus merasa bahwa semua itu menyakitimu? Kenapa melekatkan bahagiamu disana? Tak ada yang menyakitkan bila kau tak mengizinkan hal itu menyakiti dirimu."

Aku bukan orang baik yang selalu mengalah, bukan hal seperti itu adanya. Aku hanya terlalu naif untuk mengutarakan apa yang sesungguhnya aku rasakan.

Sekarang dalam pilihan untuk menjauhi semua yang ada dan membangun jarak dengan semua aku hanya berpikir aku harus membangun benteng di sekeliling diriku dan menjadi penyendiri. Mungkin rasanya akan sepi apakah semua akan jadi lebih baik?

"Siapa yang akan dirugikan disini? Hanya dirimu sendiri, selalu menghindari apa yang tak kau suka, tapi karena dunia ini bulat semua hanya akan kembali kepadamu lagi nantinya, semakin tinggi, semakin bertumpuk-tumpuk karena tak pernah kau selesaikan."

Adakah cara lain untuk semua masalah ini?

Selalu menghindar, entah apa yang aku pikirkan aku selalu menghindari semua orang yang membawa rasa sakit hati dan kecewa tetapi juga akan kembali lagi kepada perasaan yang sama dengan objek yang lainnya. Bagaimana cara mengakhri semua rasa dalam kehidupan ini?

Apa aku memiliki keberanian untuk mengakhirinya sampai disini? Mungkin akan ada yang tak menyangka, akan ada yang sedih dan kecewa. Egoiskah diri ini?

Saat menghindar tak akan menyelesaikan masalah apapun juga, tetapi dengan menghindar aku bisa kembali bernapas dengan normal dan berusaha bahwa semua baik-baik saja. Meski artinya hanya kembali menjadi pribadi yang bertopeng.

Pantas kehidupan ini terasa begitu melelahkan bagiku karena aku selalu berpura-pura setiap saat.

"Sudah seharusnya kau memantapkan diri bahwa tak ada yang pasti yang dapat kau miliki, semua bahagia adalah sesaat, semua sedih adalah sesaat, dan semua hubungan adalah tak pasti. Bukan semua menjadi tak berarti, bukan semua menjadi tak bernilai karena semua hanya akan berlalu, hanya nikmati setiap momen yang ada saat ini, karena kita hidup disaat ini disaat sekarang, bukan dimasa lalu yang selalu kau kenang, atau dimasa depan yang selalu kau bayangkan. Semua yang terjadi memang pasti akan berlalu, kau hanya harus menjalani semua yang ada dihadapanmu saat ini dengan sepenuh hati mencurahkan seluruh diri dan perhatianmu, menikmati semua rasa kebersamaan yang ada saat ini dan menghargai siapapun sosok yang mendukungmu saat ini. Sebelum semua itu berlalu tanpa kau sadari dan kau hanya akan bersedih ria dengan semua penyesalan karena telah menyia-nyiakan apa yang telah berlalu, dan lagi-lagi kembali tak fokus pada kehidupanmu saat ini karena terlalu meratapi apa yang telah terlewat."

"Semua kenangan adalah berharga, bukan artinya semua berlalu dan kau tak boleh mengingat semua masa indah bersama. Hanya saja semua ada porsinya, kehidupanmu masih terus berlanjut, bagaimana masa depan akan terjadi adalah kewajibanmu untuk memastikannya berjalan dengan baik. Memikirkan masa depan dan arah tujuanmu adalah baik adanya tetapi semua bukan dijadikan bayangan dan khayalan masa depan yang tak ada habisnya. Karena kehidupan adalah nyata tak bisa kita hidup hanya dengan bayangan saja, tak bisa kita kenyang hanya dengan berpikir kita telah makan dan kehidupan itu adalah saat SEKARANG."

"Hargailah, menangislah saat kau ingin menangis, tertawalah saat kau memang bahagia. Jangan tahan apa yang kau rasakan, tetapi pikirkan bagaimana cara kamu menyampaikannya, bukan dengan sengaja menyakiti orang lain, tetapi juga bukan kewajibanmu untuk selalu menjaga perasaan orang lain. Katakan bila kau kecewa, bila kau sakit hati, tetapi perhatikan caramu menyampaikannya."

"Hiduplah saat sekarang, menangis disaat sedih, tak akan ada orang yang mengaggapmu lemah, dan biarpun semua orang mengaggapmu lemah, masih ada aku disini yang mengetahui sejauh mana kamu telah berusaha menahan air matamu itu, sekeras apa kau telah berusaha dan aku tahu kau menangis bukan untuk dikasihani, bukan untuk menjadi lemah tetapi karena semua beban itu sudah tak mampu lagi kau tahan sendiri, perjalanan sejauh ini tentu perlu istirahat bukan?"

"Meski tak ada lagi siapa pun yang tak mampu kamu percaya, tak ada siapapun yang dapat menjadi tempat untuk kau bercerita dan menuntunmu kembali kuat dalam jalan kehidupan ini, masih akan ada diriku disini. Kau tak pernah sendiri, aku selalu ada bersamamu, melihatmu setiap hari, meski kau terkadang tak mau mendengarkanku, tak menggubris kehadiran dan eksistensiku, tetapi aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri kembali berjalan didalam kegelapan itu sendirian lagi. Tak akan kubiarkan kau menyerah pada kehidupanmu sendiri, mengakhirinya sekarang sama dengan menghindari masalah yang seharusnya kau hadapi, semua hanya akan kembali lagi kepadamu untuk kau selesaikan karena karmamu belum berakhir. JALANILAH! Yakinlah kau tak sendirian, rasa sepi yang membunuhmu itu hanya karena kau tak mau melihat kedalam dirimu sendiri, selami dirimu lebih jauh lagi dan akan kau temukan diriku yang sejati."



Tersenyumlah, kuatlah karena kesedihan inipun pasti akan berlalu.

Surat menyurat dengan hakiki batinmu sendiri.

Kembali Ke Jakarta

Kembali ke Jakarta, bukan liburan yang lama memang yang baru saja aku lalui
Bukan liburan yang mewah ataupun jauh
Bahkan dapatkah aku katakan sebagai liburan yang menyenangkan (?)

Kembali ke Jakarta, aku harap tak terdengar seperti mengeluh dan tak mensyukuri keadaanku
Hanya saja ..
Kembali ke Jakarta itu artinya kembali pada bumi dan dunia dimana aku harus kembali sadar akan semua tanggung jawab dan kewajiban yang sempat tertunda
Kembali sadar dan mengingat segala tugas yang belum terjamah dan terbengkalai sesaat pada masa liburan yang telah berlalu

Kembali ke Jakarta, artinya kembali pada kenyataan dimana aku harus membuka mata dan menetapkan hati untuk menentukan sebuah tujuan
Sebuah langkah awal dari sejuta langkah lainnya (bahkan meskipun nantinya aku mungkin akan tertatih-tatih dan tak sanggup berdiri untuk melangkah dengan pasti) harus dapat aku pastikan bahwa aku harus tetap bergerak agar tak tertinggal semakin jauh dibelakang

Kembali ke Jakarta, artinya aku sudah harus membulatkan tekad atas keputusan apa yang aku ambil, satu langkah pertama saat ini, satu keputusan mantap saat ini.
Haruslah aku pastikan tekadku tak akan habis ditengah jalan
Haruslah aku pastikan bahwa aku akan mampu menyelesaikannya hingga akhir (meski tak kita ketahui akhir seperti apa tapi apapun tetap akan berakhir kan?)

Karena aku pun harus terus meyakinkan diri bahwa mimpi ini bukan hanya milikku sendiri
Bahwa impian ini bukan hanya hak ku pribadi
Bahwa harapan yang ku bawa kini bukan keegoisanku sendiri
Banyak.. sangat banyak orang yang berharap pada hasil yang harus aku selesaikan nantinya
Banyak.. sangat banyak dukungan dari orang-orang yang berjasa

Dimana aku pribadi tak memiliki hak untuk mengecewakan mereka
Tak ada sedikitpun hak untuknya..

Satu langkah pertama untuk memulai langkah-langkah lainnya
Aku tak berharap macam-macam hanya semoga aku selalu mampu melihat dari sisi positif yang mungkin tak nampak secara kasat mata pada permukaannya

Buddha Bless Us Guys
Juli 2015

Dengan Ketulusan

Aku tak berniat berbicara ataupun menulis panjang untuk post kali ini, karena saat ini aku hanya ingin mengungkapkan bahwa aku sungguh tak menyangka bahwa aku bisa bangkit dari luka penuh bara yang begitu menyakitkan dahulu.
Bahwa aku bisa bangun kembali dan bahkan kembali tersenyum.
Bahwa bahkan aku bisa kembali percaya bahwa masih ada sesosok anak manusia yang dapat memancarkan ketulusan seperti yang kau pancarkan.
Walau sesugguhnya kau begitu polos, lugu atau dapatku katakan tidak peka (?)
Tapi ketulusan hatimu merubah beku pada hati ini.
Terima kasih, karena benar adanya hanya cinta sejatilah yang dapat menyembuhkan hati yang beku.
Terima kasih atas kehangatan dan ketulusan yang kau pancarkan.
Love you now and hope can be ever after. Lovely one NH-

Dengan Cinta

Sesungguhnya aku pun takut kecewa
Sesungguhnya aku pun telah lelah merasakannya
Hanya saja kau datang dan membuatku sadar

Rasa kasih mungkin dapat melawan benci
Ketulusan akan dapat memenangkan pertandingan
Dan cinta dapat membawa kebencian

Mungkin tak seharusnya kita mengartikan cinta dengan begitu sempit
Karena cinta tak seharusnya hanya mengenai aku dan kamu
Tak seharusnya hanya tentang diriku dan dirimu

Ada makna lebih dalam dan luas dari sebuah kata cinta
Ada rasa yang tak dapat terkalahkan dari sebuah kekuatan cinta
Aku menyadarinya saat ketulusan dapat membawamu pada sebuah kenyataan yang lebih indah

Aku percaya padamu
Haruskah aku kembali percaya pada rasa itu?
Haruskah aku kembali memberikan kepercayaan itu?
Jadi dapatkah aku percaya kepadamu?

Aku tersenyum dan tertawa beberapa waktu ini
Tapi aku sadari bahwa aku tak seharusnya kembali terjebak dalam cinta yang sempit
Aku tak tahu apa diriku mampu mengembangkan cinta sepertimu
Mengembangkan cinta yang mampu berjuang bagi sesama dan bukan tentang aku dan kamu
Dapatkah aku? Karenaku tahu saat cintaku dapat menjadi sebuah kasih yang luas
Aku tak akan kecewa padanya
Karena apa yang aku cintai dan aku percaya adalah apa yang aku lakukan benar dan baik adanya

Tapi tetap akan ada sisi dimana aku mencintaimu
Hanya kau dengan rasa yang berbeda
Dan aku hanya ingin terus bersamamu melalui semuanya
Dan aku tak ingin kau tersakiti ataupun pergi jauh dariku
Dimana aku akan melindungimu dengan rasa cintaku yang sempit itu

Tak dapat aku pungkiri aku tak mampu mengembangkan hanya cinta yang luas
Karena dirimu yang spesial dan tak dapat tergantikan
Bagaimanapun juga akan ada dalam diriku sisi egois untuk memilikimu
Memilikimu hanya untukku

Lalu maafkanlah aku saat nantinya tiba aku menjadi egois karena perasaanku
Percayalah semua karena dirimu spesial bagiku


Tak Dapat diungkapkan

Mungkin ini bukan sebuah puisi dan tidak akan menjadi sebuah puisi
Tidak akan pula menjadi sebuah karya dengan susunan kata yang indah sambung menyambung diantaranya
Karena hari ini aku hanya ingin menulis
Apapun itu aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini meski tak akan terkesan indah nantinya

Aku hanya menyadari bahwa mungkin aku tidak akan bisa menjadi orang pertama yang kau cintai karena segala sesuatu yang kini telah berlalu
Aku juga menyadari bahwa aku mungkin tak akan bisa menjadi orang pertama yang merasakan kecupan manismu
Meski semua yang telah berlalu itu kau sadari maupun tidak kau sadari
Tetapi semua tetaplah sudah terjadi

Aku disini hanya tidak akan menyerah dan tidak mau menyerah
Saat perasaanmu mungkin saja telah berbeda
Dengan semua yang aku tahu kau bukanlah orang yang akan menyerah akan apa yang kau percaya
Kau bukanlah orang yang akan berbohong akan apa yang kau rasa

Aku percaya tentu aku percaya bahwa kini perasaanmu telah berubah
Aku hanya menjadi egois dan selalu ingin tahu perasaanmu dahulu
Aku hanya berpikir bahwa saat kau mencintai dengan tulus tak seharusnya perasaan itu mudah berubah
Terutama bagi orang seperti dirimu

Aku tahu tak akan ada gunanya bila aku memusingkan apa yang telah kau lalui
Karena seperti apa kataku semua telah berlalu dan tak dapat berubah
Aku hanya takut dan khawatir disini
Bahwa semua dapat kembali berubah
Mengapa pula hatimu berubah? Bukankah kau tulus dahulu padanya?

Aku tahu tak seharusnya aku merisaukan apa yang tak mampuku genggam
Aku tak seharusnya merisaukan apa yang telah terlewati
Hanya seharusnya menikmati masa-masa kini dimana kau mencintaiku
Tetapi rasa risau itu tak mampu sirna meski aku pun tahu kau dapat kupercaya

Aku hanya ingin tahu semua pernyataan cintamu
Bukanlah sebuah pelarian dari kisah yang tak mampu kau capai
Meskipun disisi lain hatiku meyakini kau bukan orang yang akan lari dan menyerah
Kau selalu berjuang, bangkit dan kembali berusaha
Semua yang membuatku juga mencintaimu
Tetapi ..
Hanya saja ..

Bodohnya diriku yang tetap tak mau mengakui sebelum ku dengar sendiri
Karena semakin aku tahu akan kisah masa lalumu
Aku juga semakin cinta
Aku juga semakin risau mengapa hatimu dapat berubah bila sesungguhnya kau tulus mencintainya dahulu?

Buatlah semua menjadi terang bagiku
Bagi kami semua
Apa tujuanmu, jelaskanlah agar bukan hanya aku yang mengerti tetapi juga semua orang

Aku akan menunggu dan berharap yang terbaik darimu
Seperti menyatunya cinta kita setelah lamanya penantian itu

-Teruntuk NH dan MK-
03/07/2015

Atas Nama Cinta!

Aku sesungguhnya tak mengerti apa itu cinta.
Apa yang kau sebut itu cinta?
Bukankah seharusnya sebuah cinta itu membawa bahagia?

Tapi aku menyadari sesuatu saat ini
Terima kasih padamu cinta
Yang aku sendiripun tak tahu kapan akan mengakhiri cinta
Dimana aku sendiripun tak tahu apa yang terjadi atas nama cinta

Satu hal yang kutahu
Ada sebuah rasa yang hangat saat aku mencinta

Terima kasih padamu cinta
Pada setiap rasa yang berusaha kau sampaikan
Dalam setiap semangat yang tak pernah kau lupakan
Pada setiap senyum yang kau sunggingkan meski dalam keadaan sesulit apapun
Dalam semua perjuangan yang kau lakukan
Dari seseorang yang tak dipandang dan diremehkan

Terima kasih padamu cinta
Yang menghantarkan hangat di dada
Aku menyadari apa yang kurang dalam hidup ini
Bukan hanya semangat, motivasi dan tujuan seperti dirimu cinta
Tetapi juga perasaan cinta itu sendiri

Terima kasih padamu cinta
Bukan hanya karena merasuk di hati dan memberikan sentuhan pada hatiku yang membeku kini
Terima kasih bukan hanya karena jalan hidupmu yang kau tularkan padaku
Terima kasih bukan hanya itu

Terima kasih karena aku menyadari
Hati manusia bukan hanya dapat melahirkan cinta dan kasih
Tetapi lebih dari itu kebencian dan kemarahan yang menggolara pun terlahir dari hati
Bahkan dari hati yang tenang sekalipun

Karena kebencian itu bukan lahir dan berdiri sendiri
Tetapi sesungguhnya merupakan keadaan dimana tak tardapat cinta
Kebencian itu bukan terlahir sendiri
Selalu ada sebab dari setiap rasa benci dihati ini

Entah itu rasa kecewa akan sebuah harapan yang tak sesuai dengan keadaan
Entah itu rasa kecewa saat tenggelam dalam rasa percaya yang salah
Entah itu rasa kecewa karena sebuah penghianatan
Entah itu rasa kecewa yang terlahir karena ingin mewujudkan cinta yang dianggap sempurna
Entah itu rasa kecewa karena kesalahpahaman yang tak aku ketahui

Tapi satu hal yang kau ajarkan padaku cinta
Untuk tidak pernah menyerah pada keadaan
Untuk tidak menggunakan jalan pintas yang salah untuk mencapai sebuah tujuan
Karena sesuatu yang berharga tak pantas dinodai dengan proses yang salah

Untuk selalu berpegang teguh pada impian yang ada
Untuk selalu mengasihi dan tak menyalahkan keadaan disekitar kita
Untuk selalu berjuang meski keadaan dirasa tak lagi dapat berubah

Terima kasih cinta untuk perasaanmu yang tersampaikan
Seakan-akan aku akan menangis saja

Terima kasih untuk menyadarkanku
Bahwa kebencian tidaklah ada
Bahwa kebencian hanya merupakan keadaan dimana cinta tak mampu menampakkan dirinya
Tapi sesungguhnya hati yang mengasihi itu tetap hidup dibaliknya

Bahwa hati manusia sudah sewajarnya saling mengasihi
Bahwa akan selalu ada tempat didasar hati itu yang menyadari bahwa apa yang salah tetaplah salah
Kau mungkin tak dapat menyentuhnya saat hati itu terbungkus benci
Tetapi saat kau turun lebih dalam
Akan kau sadari bahwa jiwa murni ini masih ada meski tak seberapa

Kebencian bukan sesungguhnya murni
Itu hanya bentuk dari hati yang terluka terlalu dalam
Karena orang yang mampu menbenci dengan begitu besar
Adalah orang yang mampu mencintai begitu dalam, namun terluka

Dedicated to My Dear NH
Because gratitude would not be enough for you


Salah

Bukan ini maksudku
Bukan ini tujuanku

Bukan ini yang aku harapkan saat aku kembali membuka hati ini
Saat aku berusaha melupakan semua luka, menyembuhkan semua nanah
Bukan inginku untuk kembali merajut asa bersama
Bukan..

Karena bukan inginku untuk kembali mengulang kisah yang sama
Apapun itu indah kita bersama hanyalah masa lalu
Bagaimanapun itu indah kita ke depannya hanya impian belaka
Seperti apapun itu, kisah kita tak sepenuhnya indah

Bukan masalah bagiku saat kisah kita tak sepenuhnya tentang bahagia
Tapi juga bukan itu inginku untuk kembali tertarik pada kharisma keindahanmu
Pada kisah indah kita dahulu

Bukan ini maksudku
Bukan ini tujuanku

Saat aku mulai membuka hati, melupakan amarah, melupakan luka, dan menatapmu
Bukan maksudku untuk kembali dalam kisah dan debaran yang dahulu pernah ada

Seindah apapun itu
Seindah apapun itu
Seindah apapun ituu..

Aku tak ingin kembali membuka buku yang telah aku tutup, dimana kisah kita telah berakhir disana
Aku tak mau kembali membaca kisah indah kita dahulu yang berakhir dengan hatiku penuh luka
Aku tak ingin terjatuh lagi pada lubang yang sama

Lepaskan aku
Lepaskan aku

Lepaskanlah ia


Salam tercinta

26 April 2015
Dari diriku yang baru sembuh disini

p.s tolong jangan secepat itu kembali terluka

Disaat Hatiku Mulai Lelah

Disaat hatiku mulai lelah, aku tak tahu harus kemana lagi aku berjalan
Disaat semua kata percaya tak lagi dapatku genggam, aku tak tahu dapatkah aku kembali sama
Tentu aku tahu bahwa semua tak ada yang abadi, tak akan ada indah yang tetap sama
Tak akan ada pula derita yang tak berakhir
Namun saat semua terasa begitu pilu, disaat semua terlihat tak ada yang mendukung,
disaat semua ...

Menyerahkah aku?
Pasrahkah aku?
Mengeluhkah aku?
Namun sungguh disaat kata percaya itu tak bisa lagi aku yakini
Disaat semua indah itu tak pernah menjadi nyata
Akankah bahagia itu hanya di dalam impian?

Lalu disaat percaya itu tak lagi dapat dipegang, disaat percaya itu tak lagi ada
Dapatkah aku tetap percaya? Dapatkah aku tetap mengulang lagi kisah yang hanya akan indah pada awalnya?
Dapatkah aku kembali percaya?
Bahwa bahagia itu akan datang bila tepat waktunya?

Disaat yang lain terasa indah dan bahagia? Akankah hanya aku disini yang meratapi sebuah kesedihan?
Kamu mungkin tak mengerti, kamu mungkin tak merasa, bahkan kamu mungkin merasa tak ada yang salah
Luka itu mungkin tak nampak, tapi luka itu ada
Bila semua sedih ini tak dapat aku kendalikan, akankah trauma ini hanya akan terus menghantuiku?
Rasa sedih, kecewa dan sakit hati
Haruskah aku kembali berjuang? Haruskah aku kembali mulai untuk percaya?
Dapatkah aku??

Meski semua tak sama adanya, meski itu bukan lagi dirimu yang dahulu
Meski semua telah berbeda
Meski mungkin hanya orang lain yang baru dalam kehidupanku
Bukankah semua sama saja? Bukankah kalian sama saja?

Aku tak dapat lagi percaya
Aku tak berani lagi percaya
Namun ...

Begitulah aku, begitu pula diriku, beginilah hatiku yang tak pernah mau mengerti
Inilah rasa sedih sakit dan kecewaku, tetapi hatiku yang terluka ini masih juga ingin kembali dapat percaya

Memang tak seharusnya kau serahkan hatimu pada orang lain
Jadi bukankah seharusnya pula kau tak percaya pada orang lain
Siapapun itu, siapapun dia orang diluar dirimu tak dapat kau percaya
Sakit hatimu datang dari pemikiran dan harapanmu padanya
Tak dapatlah kita percaya, tak dapatlah kita berharap pada segala sesuatu yang tak pasti
Pada orang lain

Namun Tuhan, DiriMu disana dapatkah ku percaya? Bahwa masih akan ada indah dalam sebuah kisah yang akan aku lalui hingga akhir?
Akan kah ada manis yang mungkin tak bertahan selamanya sepanjang waktu aku melaluinya
Tetapi akankah ada manis yang dapat aku rasakan diakhir kisah ini

Haruskah aku kembali mencoba? Dapatkah aku berani untuk kembali terluka?
Karena sesungguhnya luka yang dahulu mungkin belum sepenuhnya sembuh
Karena mungkin sesungguhnya luka yang dahulu kau ciptakan terlalu menyakitkan bagiku
Dapatkah aku percayakan luka ini untuk sembuh dalam kasihnya?
Tidakkah?
Dalam KasihNya?
AKU MASIH PERCAYA!

Aku harap aku berani untuk memulai kembali, percaya kembali akankah itu artinya tersakiti lagi?
Saat aku takut untuk terjatuh dan aku tak mau berjuang untuk berjalan hingga akhirnya aku tak akan mampu
Haruskah aku berani? Haruskan berani?

NO!

Setelah dua tahun berlalu, setelah semua kedekatan yang kita jalani, aku pun tahu dan aku meyakini bahwa tak mungkin semua menjadi biasa saja bagimu kini, karena semua juga tak biasa saja bagiku, tak biasa saja bagiku sedari awal aku menjalin hubungan denganmu.
Harusnya sudah aku sadari sedari dulu, harusnya sudah aku sadari sejak kau mengirimkan pesan yang salah itu kepada diriku, harusnya aku sadari bahwa itu adalah pertanda yang harus aku lihat dimana itu adalah tanda dimana aku harus membuka bukan saja mataku tetapi juga hatiku. Bukan hanya untuk membuka hatiku tapi juga melepas cengkraman rasa itu dari diri ini. Tapi aku masih belum mampu melakukannya karena disana masih tersimpan rasa dan harapan yang tersisa karena dengan semua cara manismu yang kau perlakukan hanya untukku aku merasa bahwa aku special bagimu.
Tapi setelah semua pengakuanmu yang kau katakan dengan gamblang atau dapat aku katakan kau tuliskan dengan baik dan benar bahwa kau masih memiliki rasa di hatimu bagi yang lainnya yang bukanlah diriku. Aku tahu kinilah akhirnya aku bisa melepaskan semua harapan itu secara utuh semuanya terlepas karena rasa sakit yang kau berikan.
Aku hanya berfikir tidakkah kau punya perasaan? Jika sedari awal kau sudah merencanakannya, seakan-akan semua hanya kau anggap permainan yang tak akan berbahaya yang tak akan menimbulkan luka? Seharusnya sedari awal kau katakan, seharusnya sedari awal kau tak memulai. Mungkin mudah bagimu karena kau tak memiliki rasa, tapi mudahkah bagiku? Semua kata manis yang kau katakan, semua terasa semu, semua kata manis yang kau utarakan, semua terasa pilu untukku. Tidakkah bisa kau memiliki rasa bertanggug jawab atas perbuatanmu? Mengapa kau tak mau mengatakannya langsung padaku? Mengapa kau hanya mengutarakannya lewat serangkaian kata yang kau ketikkan? Mengapa kau tak ungkapkan kata maaf dari hatimu? Tidakkah kau merasa bersalah?
Dan mengapa kini kau ingin datang kembali jika akupun tahu bahwa perasaanmu tetap sama, tetap kepadanya? Dengan tujuan apa kau kembali? Sungguh aku tak mau membencimu, sungguh karena aku tak mau perasaan ini mengikat diriku untuk kembali bertemu denganmu. Tapi kau membuatku membencimu karena dirimu yang selalu saja datang kembali meski kau tak memiliki rasa untukku. Untuk apa? Apa tujuanmu? Apa kau begitu ingin melihat kehancuranku? Terima kasih untuk segala rasa yang kau ajarkan padaku.

Tapi kini meski kau datang dengan ketulusan hati aku tak akan dapat melihatnya, dengan apapun kau kembali aku hanya ingin mengusirmu pergi menjauh dariku. Bukan karena tiada maaf bagimu, tapi karena kau tak memintanya, bukan karena aku membencimu tapi karena segala rasa kecewa yang masih ada dan karena aku tahu kau bukan datang membawa permintaan maaf karena aku tahu kau bukan datang karena ketulusan rasamu. 
 
Poem of Love Blog Design by Ipietoon