Memikirkan tentang rasa kecewa, tentu bukan hanya kita yang pernah merasakannya, bahkan tentu bukan hanya kita yang merasa kecewa saat terlibat dalam suatu masalah bersama. Setiap masalah aku yakin sama seperti peperangan yang bukan hanya akan melukai secara fisik tetapi juga batin, yang akan melukai bukan hanya satu pihak tapi banyak pihak, semua pihak.
Rasa kecewa pasti selalu ada, karena manusia selalu memiliki harapan, perbedaan yang terjadi antara harapan dengan kenyataan tentu akan membawa yang namanya kekecewaan. Entah apa yang akan aku lakukan, saat ini berpikir tentang satu tindakan, yang aku sendiri merasa bahwa itu egois, bodoh, menghindar, entahlah, tapi saat ini hanya benar-benar bisa memikirkan hal semacam itu.
Satu hal yang aku pikirkan akan terjadi bila memang itu aku lakukan, entah benar atau tidak tapi sedikit banyak hal itu pasti akan membawa yang namanya rasa kecewa tanpa aku harapkan. Banyak, sangat banyak orang yang kita kenal, tidak mungkin semua yang orang lain harapkan bisa kita penuhi. Aku sadar ini bukan tentang tidak sempurna, tapi manusia itu berbeda-beda, sifat, jenis dan segala macamnya, kita tentu tidak bisa membawa kepuasan semua orang, pengharapan semua orang pada diri kita sendiri. Bahkan, sering kali aku juga kecewa kepada diri sendiri.
Aku bukan tidak berniat menyelesaikan masalah ini, tapi yang saat ini dapat aku pikirkan hanyalah menyelesaikannya dan pergi jauh entah untuk kembali lagi atau tidak, bodoh sungguh bodoh aku rasa, aku memang sangat ingin untuk menjauh dan pergi dari semua hal itu, tapi jujur dari hati terdalam masih ada bagian yang aku tak rela untuk melepaskannya. Bagaimanapun kenangan itu bukan aku maksudkan untuk aku buang, banyak hal yang berubah setelah semuanya berlalu, setelah semua yang aku jalani, aku tidak menyesalinya. Sungguh mengenal hal itu adalah suatu kebahagian terbesar dalam hidupku, mungkin tidak sepenuhnya menuntun arah kehidupanku, tapi sudah cukup menjadi pedoman yang sangat, sangat berarti.
Aku tidak mungkin melepaskannya, tidak mungkin melupakannya, tapi semua tindakan dan cara yang mungkin salah, membuat keadaan berubah menjadi tidak menyenangkan dan tidak nyaman saat harus berada dalam lingkungan yang seperti itu, aku hanya berpikir aku harus pergi hanya dapat menyimpulkan secara sepihak dan semudah itu. Entah apakah akan ada yang kecewa akan pilihan ini, apa kau akan kecewa?
Aku bukan pergi untuk lari, aku bukan pergi untuk tidak kembali, saat ini hal yang paling cocok aku rasakan untuk dilakukan adalah mengalihkan kegiatan di jam lain yang akan meminimalisasi kemungkinan untuk bertemu. Arghh terkadang kalau aku pikirkan lebih jauh lagi, kenapa jadi seperti ini? Bukan mencari kesalahan orang lain, bukan, bukan. Aku sedang memikirkan kenapa aku memilih untuk menghindari semuanya, kenapa? Aku sudah memutuskan untuk menyelesaikan semua yang sudah terlanjur terjadi, apapun itu mari kita selesaikan, lupakan. Tapi tidak untuk memulai segala sesuatunya kembali.
Oh, yaampun serasa macam anak muda galau yang gak punya kerjaan lain, karena hal-hal serperti masalah ini terasa bukan lagi masalah yang harusnya aku pikirkan, bukan lagi masalah utama dalam kehidupan yang harus menyita perhatian lebih.
Ada rasa bila memang ingin pergi, kenapa tidak pergi sekarang saja, hanya saja keadaan sepertinya akn bertambah keruh bila aku hanya menghindari untuk menghadapi semua ini, yah, jadi yang bisa aku pikirka adalah menyelesaikan apa yang sudah menjadi masalah, tapi menjauh agar tak ada lagi masalah selanjutnya. Hahahah, kalau dipikir-pikir lagi macam pengecut yang hilang, hello tapi tidak lah karena aku tidak berniat meninggalkan masalah ini.
Kesimpulan akhir yang bisa aku katakan lagi-lagi hanya semua sudah tidak terasa nyaman, bukan masalah baru. Hal semacam ini sudah berlangsung kalau dihitung-hitung sudah memasuki tahun ke dua. Yaampun, masalah yang sudah berlarut-larut. Oke, karena masalah ini tidak selalu datang, kadang prinsip kita bukan selalu tidak sama, hanya saja kebanyakan tidak sama.
Selalu muncul perasaan ingin pergi, dan perasaan tidak rela secara bersamaan. Saat ini hanya keputusan itu yang menurutku lebih baik untuk dilakukan. Entahlah, mungkin ini hanya emosi sesaat, emosi dimana tidak suka untuk berkumpul bersama untuk melakukan sesuatu yang remeh temeh bukan menganggap enteng atau rendah, hanya saja saat tekanan tugas dan beberapa kewajiban lain yang terpikirkan, tapi belu terselesaikan itu menumpuk aku rasa kumpul hanya untuk sekedar berbincang ramah tamah berjam-jam bukanlah kegiatan yang menyenangkan, mungkin semua akan terasa berbeda saat tekanan ini juga tak lagi sama. Tapi aku rasa bila aku terus jutek, cuek, menyebalkan sampai saat itu tiba semua juga tidak akan kembali sama. Oke!
Mungkin aku juga terlalu memandang serius, aku serius? hahah terdengar aneh kalau aku bisa serius. Hmm, memilih menjadi manusia individualis tentu tidak baik, aku menyadarinya juga, hanya saja kau tidak bisa akrab dalam suatu keramaian, dan tidak bisa akrab dalam keramaian yang belum aku terima dan pahami. Aku menyadari satu hal, aku akan konyol, manja, kekanak-kanakkan, selalu bercanda, dan hal-hal sejenis itu hanya pada orang yang sudah aku percaya, dalam hal bagaimana aku mendeskripsikan ini.
Oke lupakan!
Kesimpulan yang didapat saat ini juga adalah menghindar, menjauh.
Maka, maaf untuk semua kesalahan yang pernah terjadi, maaf untuk kesalahan yang sepertinya akan terjadi, semua mungkin akan salah paham, dan aku juga akan salah karena tidak berusaha meluruskan apa yang salah hanya karena merasa bahwa tak ada gunanya semua itu diperbaki, karena kita hanya akan berakhir dengan kata berpisah. Tapi perpisahan secara baik-baik yang akan aku pilih. Pilihan ini aku pilih sekarang hanya satu alasan, perbedaan rasa, perbedaan prinsip, apa kita masih bisa bersama? Kita tentu bukan menjadi musuh yang saling membuang muka dan saling tidak kenal, hanya saja kita tidak akan menjadi sahabat dan saudara kepercayaan yang saling berbagi kisah, keluh kesah dan masalah.
Semua masalah ini aku harap tidak akan membawaku pada pembelokkan hati dan rasa percaya, karena aku masih akan membina diri di setiap kehidupan yang akan aku lalui, sampai tercapinya apa yang aku harapkan.
Sekian terimakasih, Bye!
Dilema Sendiri
Lagi, yah lagi-lagi hanya tentang curhatan tak berarti dari diriku tentang kehidupan yang terasa semakin tidak jelas diakhir tahun ini, perasaan seakan-akan kembali mengambil alih dan satu hal yang selalu aku lakukan saat aku berubah menjadi aneh karena perasaan yang aneh adalah menulis. Sebuah metode yang aku sadari, ah mungkin tidak bisa aku bilang aku sadari, aku suka menulis, menulis apa saja tentang perasaan yang aku alami, tapi aku menyadari bahwa kegiatan ini bisa meringankan perasaanku bukan karena aku menyadarinya sendiri, tapi karena celetukan singkat dari orang yang aku rindukan saat ini, yang berkata "kenapa tidak menulis aja ci, aku biasanya bisa lebih baik setelah menulis." Yahhh dan jadilah aku sekarang yang suka "nyampah" di blog saat perasaan benar-benar tidak baik, atau perasaan benar-benar gembira.
Well, sebenarnya kalau dipikir-pikir semua tulisan "nyampah" ini kebanyakan bahkan hampir semuanya adalah keluh kesah, bukan tidak percaya pada orang lain tentang apa yang akan aku ceritakan, bukan tidak punya tempat bercerita, tapi saat menulis dan memikirkan apa yang aku rasakan, hanya menulis, apapun yang terlintas aku merasa sedikit demi sedikit juga berusaha mendalami perasaanku sendiri, berusaha mengerti apa yang aku rasakan sedikit demi sedikit dan lagi aku juga bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan pendapat secara lisan, karena saat berbicara secara langsung aku merasa tidak punya cukup waktu untuk merasakan apa yang aku rasakan, aku tidak punya cukup waktu untuk berpikir apa yang akan aku ungkapkan apakah baik, buruk, menyakitkan orang lain, merendahkan, mengecewakan, benar yang aku rasakan atau bukan. Banyak sangat banyak hal yang menjadi tidak terungkapkan saat aku harus menyampaikannya secara lisan, tapi saat menulis seperti ini, dimana aku tidak tahu, tidak mengerti apa yang sesungguhnya ingin aku sampaikan, aku hanya merasa harus menulis, aku hanya merasa sedih, kecewa, dan banyak hal lainnya. Menulis sembari memikirkan apa yang aku rasakan, perlahan-lahan dan lama-lama jadi nangis sendiri, menyedihkan? Apa itu sesuatu yang menyedihkan menyadari bahwa kau selalu sendiri? Apa itu lebih buruk dari pada perasaan bahwa kau kesepian? Hahahah, tapi aku sedang tidak berniat membahas mengenai apa itu kesendirian dan apa itu kesepian.
Aku mungkin seperti tidak percaya pada orang lain untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan, tapi seseorang yang mampu mengerti mungkin akan melihat dari apa yang aku tampilkan, bahasa tubuhku selalu tidak terkendali saat perasaan begitu membuncah, aku akan selalu jadi orang yang berusaha tersenyum dan membuat lelucon aneh, bukan untuk membuat aku sendiri tertawa, walau terkadang lelucon itu memang benar-benar lucu, tapi semua itu lebih kepada aku ingin mengalihkan perasaan entah itu sedih, kecewa atau marah pada hal lain.
Aku tidak memahami masalah seperti apa sesungguhnya yang sedang terjadi dan mulai berlarut-larut ini, aku tidak memahami tidak bisa memahami, tidak bisa mengerti, tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi satu hal aku selalu ingin kabur dari masalah yang ada, aku sadar menghindar tidak akan membawa penyelesaian, bahkan sudah ada satu tulisan khusus yang membahas mengenai kebiasaanku untuk menghindar.
Selalu, aku selalu kabur saat ada masalah, bukan tidak ingin menyelesaikannya, bukan sungguh ingin mengabaikannya, hanya saja saat aku terlalu emosi, entah itu marah, sedih, kecewa, bahagia, aku tidak benar-benar bisa mengerti masalah apa yang sedang aku hadapi, aku tidak benar-benar bisa melihat dari sisi orang lain yang memilih suatu tindakan yang membuat aku sedih, marah atau kecewa kenapa ia memilih hal tersebut, aku tidak bisa berpikiran jernih dan memaklumi sesuatu untuk kebaikan bahkan walau itu bertujuan untuk kebaikanku sendiri. Aku egois, aku bukan mengaku aku egois, aku bukan mengelak aku egois, tapi kenyataan adalah aku egois, aku bodoh, dan semakin egois serta bodoh saat aku emosi.
Emosi yang mengerikan, sungguh mengerikan, aku sudah sering kali mengalaminya, sudah beberapa kali menjadi masalah besar karenanya, berpisah, salah paham, menjauh, berubah karena emosi. Aku sadar, aku tidak mau lagi, bukan tidak mau emosi, bukan tidak mau egois, aku rasa sulit pastinya menghilangkan perasaan semacam itu, tapi aku hanya akan menjauh saat aku seperti itu, setelahnya aku hanya bisa bilang maaf. Entah kamu akan mengerti dan memaafkannya atau tidak.
Aku egois, maafkan aku. Aku bukan berharap kau memahami, tapi sungguh beruntung saat kau mau mengajak untuk berbicara terbuka satu sama lain tentang apa yang aku rasakan, aku sadar bahwa KITA lebih berharga dari EMOSI SESAAT itu. Aku tahu tak ada yang abadi, aku sadar tak ada yang kekal, segala sesuatu punya masa, segala hal bisa rusak, tapi sebagian hal bisa diperbaiki, sebagian lagi bisa dialih fungsikan, sebagian lainnya mungkin perlu pengolahan lebih lanjut, tidak ada hal yang sungguh-sungguh tidak dapat berguna lagi, mungkin ia memang tidak berguna lagi saat ini, tapi kalau kita mau meluangkan sedikit waktu untuk menambah sedikit saja nilai gunanya ia dapat digunakan lagi menjadi sesuatu hal yang mungkin berbeda dari fungsi awalnya.
Yahh, and well bukan itu yang mau aku bahas, tapi pembahasan tadi menyerempet pada hal seperti itu. Perpisahan itu mungkin takdir, mungkin jalannya, aku yang menjauh darinya, kita yang dahulu pernah dekat, kita yang dahulu bersama, ada saatnya kebersamaan itu bukan tidak bisa terjalin lagi, tapi kebersamaan itu harus memiliki status yang tidak lagi sama, aku pernah dan masih teringat jelas akan hal itu, lalu aku sadar aku tidak mau lagi. Menekan perasaan sendiri itu menyakitkan, terima kasih karena sudah mau bertanya tentang apa yang aku rasakan. Itu sungguh meringankan.
Masa lalu bukanlah hanya sebuah masa lalu, masa lalu bukannya tidak berharga karena dengan adanya masa lalulah, ada diri kita yang sekarang. Kita yang sekarang tidak lagi saling dekat, tidak lagi saling mengabari, tidak lagi saling bercerita, aku sadar dulu kita dekat, tapi dulu kita tidak akrab, hahaha, yahh, aku dengan ceritaku, kamu dengan ceritamu yang tidak pernah kau ungkapkan secara terbuka, tapi dulu kita dekat. Sekarang kita bukan tidak dekat, aku tahu kamu masih peduli, aku tahu kamu masih menanyakan kabar, tapi terlalu gengsi untuk bertanya langsung, terima kasih masih tetap memikirkanku, dan aku sekarang tidak mau lagi menjadi canggung karena perpisahan, aku memilih apa yang akan aku ambil, aku memilih bagaimana harus bertindak, tapi bagaimanapun aku tetap perlu cara yang sama seperti dulu, aku perlu waktu, aku perlu menghindar, aku perlu menjauh.
Tapi aku sadar bahwa kali ini aku akan kembali, aku sadar bahwa kali ini aku tidak ingin terputus, aku hanya perlu sedikit ruang untuk bergerak menggeliat, menarik napas, dan aku butuh banyak waktu untuk memikirkan semuanya kembali, aku harap tidak ada luka yang membekas diantara kita, karena luka pasti selalu ada dari interaksi yang saling bergesekan. Karena semua anak yang belajar berjalan pun perlu untuk belajar terjatuh, bukan agar ia merasakan sakit, bukan sengaja agar ia terluka, tapi agar ia belajar untuk selalu bangkit, bukan berharap pada adanya kesempatan kedua, tapi belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Masa lalu bukan tentang biarlah semua berlalu, masa lalu bukan hanya tentang apa yang membentuk kita saat ini, masa lalu bukan hanya kenangan tapi juga pelajaran.
Saat bersama, saat-saat bersama itu mungkin sudah aku lupakan, bagaimana rasanya, bagaimana keceriaan kita, saling ejek, saling cela, saling menyindir, saling bercanda, saling BERSAMA. Bukan tentang kehilangan kebersamaan itu, entah lah aku hanya berpendapat, aku tidak menutup pintu pertemanan, tapi aku mungkin menutup diri sendiri tanpa aku sadari, seakan-akan usaha perlindungan diri secara refleks, yaahhh.. whatever I said.
Aku bukan tidak berharap kita kembali, tapi aku juga bukan berharap kita kembali. Bagaimana aku mengungkapkan hal ini, kita tetap bisa berteman, tapi bukan berarti selalu bersama, kita tetap akan bersama, tapi bukan berarti akan seakrab dulu. Sungguh ini bukan membahas dendam, atau setelah kecewa tak ada lagi yang sama, entahlah lagi aku juga tidak yakin sepenuhnya, tapi pikiranku meyakini itu, semua ini bukan masalah hal itu, sungguh, aku hanya merasa sudah tidak cocok, aku hanya merasa bukan itu jalan yang aku mau, maaf saja, aku tidak berharap bermusuhan, sungguh ini sungguh, aku meyakininya, tapi aku juga tidak bisa kembali sama, bukan tidak bisa, atau bagaimana, haaahhh, bagaimana kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Aku hanya merasa menemukan jalan, aku hanya merasa memilih jalan, dan hal itu tidak sejalan dengan yang lainnya untuk banyak hal, jadi akan ada banyak banyakkk sekali hal yang tidak bisa kita lakukan bersama, bukan karena aku berusaha menjauh, bukan karena aku bermusuhan, bukan karena dendam, tapi yah karena aku merasa prinsip kita berbeda, aku tidak bersenang-senang dengna cara itu, maaf bukan itu salah, atau bagaimana tapi satu ungkapan yang bisa aku katakan adalah AKU TIDAK NYAMAN dengan pilihan itu bila harus aku lakukan.
Aku bukan makhluk sosialita, aku bukan pula yang selalu sendiri, aku mau berteman dengan siapa saja, oke mungkin aku pemilih tanpa aku sadari, tapi aku hanya perlu satu yang membuat nyaman, bukan melupakan yang lain, hanya saja saat aku mempunyai pilihan dan tempat aku bisa merasa nyaman tentu aku tidak akan mencoba-coba lagi ditempat lain yang aku belum tahu apalagi mencoba-coba lagi ditempat yang sudah aku tahu berbeda jalan dan membuat tidak nyaman.
Kita berbeda pilihan untuk hal ini, bukan berarti kita harus bermusuhan bukan, kita mungkin sama untuk prinsip lainnya, Siapa yang tahu, kau dengan kehidupanmu, maaf saja untuk saat-saat emosi aku hanya akan bilang aku tidak peduli terserah pada pilihanmu, mungkin itu sungguh-sungguh apa yang aku rasakan, tapi dilain masalah aku mungkin akan peduli, bukan tentang plin-plan, egois atau apa, tentu saja aku pun terbatas, satu diri, satu pikiran, 24 jam waktu, tidak semua hal bisa aku lakukan, tidak semua hal bisa aku pikirkan, maaf tapi itu adahal hal yang wajib menjadi pilihan.
Aku masih belum tercerahkan akan hal yang muter-muter ini, emosi masih ada dan yang dirasakan hanya bagaimana menjadi identitas baru, pergi dari semuanya, meninggalkan semuanya dan oke bye pada maslaha itu, tapi tidak bisa kan, apa yang tidak aku selesaikan sekarang nantinya hanya akan kembali datang dan kalau ibarat pinjaman yang belum dilunasi malah akan berbunga dan semakin besar, tapi aku belum bisa berpikir saat ini.
Haaaahh, hanya ingin pergi jauh, seandainya ini games bisa reset dan kembali baru.
Hahahah, hidup itu mempermainkan saya bukan?
Well, sebenarnya kalau dipikir-pikir semua tulisan "nyampah" ini kebanyakan bahkan hampir semuanya adalah keluh kesah, bukan tidak percaya pada orang lain tentang apa yang akan aku ceritakan, bukan tidak punya tempat bercerita, tapi saat menulis dan memikirkan apa yang aku rasakan, hanya menulis, apapun yang terlintas aku merasa sedikit demi sedikit juga berusaha mendalami perasaanku sendiri, berusaha mengerti apa yang aku rasakan sedikit demi sedikit dan lagi aku juga bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan pendapat secara lisan, karena saat berbicara secara langsung aku merasa tidak punya cukup waktu untuk merasakan apa yang aku rasakan, aku tidak punya cukup waktu untuk berpikir apa yang akan aku ungkapkan apakah baik, buruk, menyakitkan orang lain, merendahkan, mengecewakan, benar yang aku rasakan atau bukan. Banyak sangat banyak hal yang menjadi tidak terungkapkan saat aku harus menyampaikannya secara lisan, tapi saat menulis seperti ini, dimana aku tidak tahu, tidak mengerti apa yang sesungguhnya ingin aku sampaikan, aku hanya merasa harus menulis, aku hanya merasa sedih, kecewa, dan banyak hal lainnya. Menulis sembari memikirkan apa yang aku rasakan, perlahan-lahan dan lama-lama jadi nangis sendiri, menyedihkan? Apa itu sesuatu yang menyedihkan menyadari bahwa kau selalu sendiri? Apa itu lebih buruk dari pada perasaan bahwa kau kesepian? Hahahah, tapi aku sedang tidak berniat membahas mengenai apa itu kesendirian dan apa itu kesepian.
Aku mungkin seperti tidak percaya pada orang lain untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan, tapi seseorang yang mampu mengerti mungkin akan melihat dari apa yang aku tampilkan, bahasa tubuhku selalu tidak terkendali saat perasaan begitu membuncah, aku akan selalu jadi orang yang berusaha tersenyum dan membuat lelucon aneh, bukan untuk membuat aku sendiri tertawa, walau terkadang lelucon itu memang benar-benar lucu, tapi semua itu lebih kepada aku ingin mengalihkan perasaan entah itu sedih, kecewa atau marah pada hal lain.
Aku tidak memahami masalah seperti apa sesungguhnya yang sedang terjadi dan mulai berlarut-larut ini, aku tidak memahami tidak bisa memahami, tidak bisa mengerti, tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi satu hal aku selalu ingin kabur dari masalah yang ada, aku sadar menghindar tidak akan membawa penyelesaian, bahkan sudah ada satu tulisan khusus yang membahas mengenai kebiasaanku untuk menghindar.
Selalu, aku selalu kabur saat ada masalah, bukan tidak ingin menyelesaikannya, bukan sungguh ingin mengabaikannya, hanya saja saat aku terlalu emosi, entah itu marah, sedih, kecewa, bahagia, aku tidak benar-benar bisa mengerti masalah apa yang sedang aku hadapi, aku tidak benar-benar bisa melihat dari sisi orang lain yang memilih suatu tindakan yang membuat aku sedih, marah atau kecewa kenapa ia memilih hal tersebut, aku tidak bisa berpikiran jernih dan memaklumi sesuatu untuk kebaikan bahkan walau itu bertujuan untuk kebaikanku sendiri. Aku egois, aku bukan mengaku aku egois, aku bukan mengelak aku egois, tapi kenyataan adalah aku egois, aku bodoh, dan semakin egois serta bodoh saat aku emosi.
Emosi yang mengerikan, sungguh mengerikan, aku sudah sering kali mengalaminya, sudah beberapa kali menjadi masalah besar karenanya, berpisah, salah paham, menjauh, berubah karena emosi. Aku sadar, aku tidak mau lagi, bukan tidak mau emosi, bukan tidak mau egois, aku rasa sulit pastinya menghilangkan perasaan semacam itu, tapi aku hanya akan menjauh saat aku seperti itu, setelahnya aku hanya bisa bilang maaf. Entah kamu akan mengerti dan memaafkannya atau tidak.
Aku egois, maafkan aku. Aku bukan berharap kau memahami, tapi sungguh beruntung saat kau mau mengajak untuk berbicara terbuka satu sama lain tentang apa yang aku rasakan, aku sadar bahwa KITA lebih berharga dari EMOSI SESAAT itu. Aku tahu tak ada yang abadi, aku sadar tak ada yang kekal, segala sesuatu punya masa, segala hal bisa rusak, tapi sebagian hal bisa diperbaiki, sebagian lagi bisa dialih fungsikan, sebagian lainnya mungkin perlu pengolahan lebih lanjut, tidak ada hal yang sungguh-sungguh tidak dapat berguna lagi, mungkin ia memang tidak berguna lagi saat ini, tapi kalau kita mau meluangkan sedikit waktu untuk menambah sedikit saja nilai gunanya ia dapat digunakan lagi menjadi sesuatu hal yang mungkin berbeda dari fungsi awalnya.
Yahh, and well bukan itu yang mau aku bahas, tapi pembahasan tadi menyerempet pada hal seperti itu. Perpisahan itu mungkin takdir, mungkin jalannya, aku yang menjauh darinya, kita yang dahulu pernah dekat, kita yang dahulu bersama, ada saatnya kebersamaan itu bukan tidak bisa terjalin lagi, tapi kebersamaan itu harus memiliki status yang tidak lagi sama, aku pernah dan masih teringat jelas akan hal itu, lalu aku sadar aku tidak mau lagi. Menekan perasaan sendiri itu menyakitkan, terima kasih karena sudah mau bertanya tentang apa yang aku rasakan. Itu sungguh meringankan.
Masa lalu bukanlah hanya sebuah masa lalu, masa lalu bukannya tidak berharga karena dengan adanya masa lalulah, ada diri kita yang sekarang. Kita yang sekarang tidak lagi saling dekat, tidak lagi saling mengabari, tidak lagi saling bercerita, aku sadar dulu kita dekat, tapi dulu kita tidak akrab, hahaha, yahh, aku dengan ceritaku, kamu dengan ceritamu yang tidak pernah kau ungkapkan secara terbuka, tapi dulu kita dekat. Sekarang kita bukan tidak dekat, aku tahu kamu masih peduli, aku tahu kamu masih menanyakan kabar, tapi terlalu gengsi untuk bertanya langsung, terima kasih masih tetap memikirkanku, dan aku sekarang tidak mau lagi menjadi canggung karena perpisahan, aku memilih apa yang akan aku ambil, aku memilih bagaimana harus bertindak, tapi bagaimanapun aku tetap perlu cara yang sama seperti dulu, aku perlu waktu, aku perlu menghindar, aku perlu menjauh.
Tapi aku sadar bahwa kali ini aku akan kembali, aku sadar bahwa kali ini aku tidak ingin terputus, aku hanya perlu sedikit ruang untuk bergerak menggeliat, menarik napas, dan aku butuh banyak waktu untuk memikirkan semuanya kembali, aku harap tidak ada luka yang membekas diantara kita, karena luka pasti selalu ada dari interaksi yang saling bergesekan. Karena semua anak yang belajar berjalan pun perlu untuk belajar terjatuh, bukan agar ia merasakan sakit, bukan sengaja agar ia terluka, tapi agar ia belajar untuk selalu bangkit, bukan berharap pada adanya kesempatan kedua, tapi belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Masa lalu bukan tentang biarlah semua berlalu, masa lalu bukan hanya tentang apa yang membentuk kita saat ini, masa lalu bukan hanya kenangan tapi juga pelajaran.
Saat bersama, saat-saat bersama itu mungkin sudah aku lupakan, bagaimana rasanya, bagaimana keceriaan kita, saling ejek, saling cela, saling menyindir, saling bercanda, saling BERSAMA. Bukan tentang kehilangan kebersamaan itu, entah lah aku hanya berpendapat, aku tidak menutup pintu pertemanan, tapi aku mungkin menutup diri sendiri tanpa aku sadari, seakan-akan usaha perlindungan diri secara refleks, yaahhh.. whatever I said.
Aku bukan tidak berharap kita kembali, tapi aku juga bukan berharap kita kembali. Bagaimana aku mengungkapkan hal ini, kita tetap bisa berteman, tapi bukan berarti selalu bersama, kita tetap akan bersama, tapi bukan berarti akan seakrab dulu. Sungguh ini bukan membahas dendam, atau setelah kecewa tak ada lagi yang sama, entahlah lagi aku juga tidak yakin sepenuhnya, tapi pikiranku meyakini itu, semua ini bukan masalah hal itu, sungguh, aku hanya merasa sudah tidak cocok, aku hanya merasa bukan itu jalan yang aku mau, maaf saja, aku tidak berharap bermusuhan, sungguh ini sungguh, aku meyakininya, tapi aku juga tidak bisa kembali sama, bukan tidak bisa, atau bagaimana, haaahhh, bagaimana kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Aku hanya merasa menemukan jalan, aku hanya merasa memilih jalan, dan hal itu tidak sejalan dengan yang lainnya untuk banyak hal, jadi akan ada banyak banyakkk sekali hal yang tidak bisa kita lakukan bersama, bukan karena aku berusaha menjauh, bukan karena aku bermusuhan, bukan karena dendam, tapi yah karena aku merasa prinsip kita berbeda, aku tidak bersenang-senang dengna cara itu, maaf bukan itu salah, atau bagaimana tapi satu ungkapan yang bisa aku katakan adalah AKU TIDAK NYAMAN dengan pilihan itu bila harus aku lakukan.
Aku bukan makhluk sosialita, aku bukan pula yang selalu sendiri, aku mau berteman dengan siapa saja, oke mungkin aku pemilih tanpa aku sadari, tapi aku hanya perlu satu yang membuat nyaman, bukan melupakan yang lain, hanya saja saat aku mempunyai pilihan dan tempat aku bisa merasa nyaman tentu aku tidak akan mencoba-coba lagi ditempat lain yang aku belum tahu apalagi mencoba-coba lagi ditempat yang sudah aku tahu berbeda jalan dan membuat tidak nyaman.
Kita berbeda pilihan untuk hal ini, bukan berarti kita harus bermusuhan bukan, kita mungkin sama untuk prinsip lainnya, Siapa yang tahu, kau dengan kehidupanmu, maaf saja untuk saat-saat emosi aku hanya akan bilang aku tidak peduli terserah pada pilihanmu, mungkin itu sungguh-sungguh apa yang aku rasakan, tapi dilain masalah aku mungkin akan peduli, bukan tentang plin-plan, egois atau apa, tentu saja aku pun terbatas, satu diri, satu pikiran, 24 jam waktu, tidak semua hal bisa aku lakukan, tidak semua hal bisa aku pikirkan, maaf tapi itu adahal hal yang wajib menjadi pilihan.
Aku masih belum tercerahkan akan hal yang muter-muter ini, emosi masih ada dan yang dirasakan hanya bagaimana menjadi identitas baru, pergi dari semuanya, meninggalkan semuanya dan oke bye pada maslaha itu, tapi tidak bisa kan, apa yang tidak aku selesaikan sekarang nantinya hanya akan kembali datang dan kalau ibarat pinjaman yang belum dilunasi malah akan berbunga dan semakin besar, tapi aku belum bisa berpikir saat ini.
Haaaahh, hanya ingin pergi jauh, seandainya ini games bisa reset dan kembali baru.
Hahahah, hidup itu mempermainkan saya bukan?
Air Mata kah? Hujan kah?
Disaat bumi menangis ataupun berpeluh
Aku hanya memandanginya dengan pilu
Atau aku akan masuk kedalamnya dan membiarkan semua air itu juga membasahiku
Berjalan dalam air matamu
Berjalan dalam peluhmu
Berjalan dalam air
Apa yang aku harapkan?
Apa yang aku inginkan?
Hanya berharap air mata kita mampu bersatu
Berbaur menjadi satu
Hanya berharap tak ada yang mampu mengenali
Siapa diantara kita sesungguhnya yang menangis
Air matamu kah itu?
Air mataku kah itu?
Biarkan kita bersatu, tetap seperti ini
Biarkan saat ini
Sebentar saja begini
Biarkan tak ada yang mampu membedakan
Mata penuh luka di dalam hati
Dengan mata yang terluka karena hujan yang membasahi
Biarkan tak ada yang mampu membedakan
Pipi yang basah karena tangis
Dengan pipi yang basah karena hujan yang mengaliri
Biarkan seperti ini
Sesaat saja seperti ini
Aku butuh tempat untuk bersembunyi
Saat air mata ini tak mampu ku bendung lagi
Terima kasih langit
Mungkin bukan inginmu menangis bersama
Mungkin bukan inginmu berpeluh bersama
Tapi terima kasih untuk mau menutupi aku yang tak sempurna
Aku yang lemah tapi tak mau tampak lemah
Aku hanya memandanginya dengan pilu
Atau aku akan masuk kedalamnya dan membiarkan semua air itu juga membasahiku
Berjalan dalam air matamu
Berjalan dalam peluhmu
Berjalan dalam air
Apa yang aku harapkan?
Apa yang aku inginkan?
Hanya berharap air mata kita mampu bersatu
Berbaur menjadi satu
Hanya berharap tak ada yang mampu mengenali
Siapa diantara kita sesungguhnya yang menangis
Air matamu kah itu?
Air mataku kah itu?
Biarkan kita bersatu, tetap seperti ini
Biarkan saat ini
Sebentar saja begini
Biarkan tak ada yang mampu membedakan
Mata penuh luka di dalam hati
Dengan mata yang terluka karena hujan yang membasahi
Biarkan tak ada yang mampu membedakan
Pipi yang basah karena tangis
Dengan pipi yang basah karena hujan yang mengaliri
Biarkan seperti ini
Sesaat saja seperti ini
Aku butuh tempat untuk bersembunyi
Saat air mata ini tak mampu ku bendung lagi
Terima kasih langit
Mungkin bukan inginmu menangis bersama
Mungkin bukan inginmu berpeluh bersama
Tapi terima kasih untuk mau menutupi aku yang tak sempurna
Aku yang lemah tapi tak mau tampak lemah
Langganan:
Postingan (Atom)