Mengapa kita sering kali mengingkari rasa sedih?
Menutupi, menahan dan tidak mau mengakuinya?
Kita tidak mampu mengenal apa itu bahagia saat kita tak mengerti bagaimana rasa kecewa. Hidup memang lebih menyenangkan saat kita bahagia, tentu semua orang ingin berbahagia. Itulah tujuan hidup kita. Namun sedih terasa lebih menyakitkan saat tak mampu diungkapkan, saat tak ada tempat berbagi, saat harus dipendam dalam sepi. Rasa sedih selalu sendiri, tak ada yang mau memahami, tak ada yang mau menemani, bahkan dirinya sendiri tak ingin ada juga tak diakui. Bukankah itu jadi semakin menyedihkan?
Kita perlu memahami rasa sedih kita sendiri, untuk mampu menjadi lebih kuat dan tetap bisa waras dalam beraktivitas. Namun, kita sering kali ingin mengingkarinya, mengatakan kita baik-baik saja, bahwa kita kuat dan tidak masalah. Bukan hal yang sepenuhnya buruk memang, namun kita juga tak berjalan kemana-mana, karena rasa sedih kita masih tertahan disana. Maka kita harus bangkit dan menjadi lebih kuat, bersama-sama. Dalam setiap momen kehidupan kita, menjadi satu kesatuan yang sempurna saat kita merangkul semua rasa yang ada. Kita sekarang tentu terbentuk dari segala rasa yang pernah kita alami, salah satunya adalah sedih. Saat kita mengakuinya, kita menjadi lebih kuat dan dewasa.
Mengungkapkan apa yang kita rasakan, baik itu perasaan sedih ataupun marah bukanlah hal yang buruk bila dapat diungkapkan dengan cara yang tepat, bisa aku katakan dengan cara yang elegan. Akupun masih belajar, akupun masih sering menahan sedih dan marah, terkadang tidak aku katakan. Kita semua masih belajar bersama untuk menjadi lebih baik, karena selama kita masih bergerak pembelajaran tidak akan pernah berhenti.
Saat kau membaca ini dalam keadaan sedih, aku katakan padamu. Ungkapkanlah, bila menangis dapat meringankan bebanmu, maka menangislah. Kita manusia yang sempurna saat kita mampu merasakan bukan hanya bahagia namun juga sedih dan kecewa. Semua adalah hal yang wajar, hanya bagaimana kamu mengungkapkannya. Tetap dalam norma yang dapat diterima tentu bukan masalah. Kendalikan amarahmu bukan berarti memendamnya dalam-dalam, bukan berarti amarahmu tiada atau harus menghilang. Kendalikan amarahmu lebih tepat bila dikatakan adalah mengenai bagaimana kamu dapat menyalurkan rasa marahmu dengan cara yang tepat.
Marah bukan berarti harus berteriak, bukan berarti harus menang. Hubungan dengan sesama manusia tidak dapat berjalan mulus bila saling menjatuhkan untuk mampu berdiri sebagai pemenang tunggal. Bila kita belum mampu tenang, maka mundurlah selangkah. Diam adalah langkah awal terbaik saat kita marah. Setelahnya kau dapat bicara dengan tenang dan katakan apa yang membuatmu kecewa. Bicara dengan tenang dari hati ke hati untuk saling memahami.
Ini bukan hanya tentang orang lain, namun diri kita sendiri, kita marah tidak selalu kepada orang lain, tapi bisa juga kepada diri sendiri. Tenanglah, ceritalah, akan selalu ada dirimu sendiri yang menemanimu. Kamu tidak sendiri. Menangislah sekarang dan bangkitlah kembali. Karena kamu akan selalu memiliki dirimu, maka jangan kehilangan jati diri saat hidup bersosialisasi.
11.07.20
Dari Rasa Sedih yang Ingin dipahami.
:)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar