Sangat beruntung dapat hidup sebagai manusia, karena manusia adalah makhluk yang memiliki akal budi. Tidak hanya bergerak karena insting atau logika namun selaras keduanya. Walau saat ini sering kali melihat manusia tanpa rasa ataupun manusia tanpa logika. Entah itu karena kurang diasah atau terlalu banyak menahan rasa.
Menurutku sangat sedih dan menyakitkan saat kita terluka namun harus tetap tersenyum dan menahan marah. Rasa sakit itu jadi semakin liar bergejolak ingin keluar. Saat aku berusaha sabar atau aku hanya sudah lelah? Setiap ku ungkapkan apa yang aku rasakan, apa yang aku pikirkan, semua ditanggapi tanpa tindakan. Seakan diriku tak berharga dihadapannya. Terkadang ada kata 'maaf', terkadang ada kata 'berusaha lebih baik', terkadang ada kata 'lelah', terkadang pula ada marah. Tidak pengertiannya aku, katanya.
Mungkin ia lelah dengan segala manja dan tidak dewasanya diriku, mungkin ia lelah dengan bergantungnya aku padanya. Mungkin juga kita hanya terlalu lama bersama, mungkin perasaan kita sudah berubah, mungkin kita sudah terlalu terbiasa. Bila ini tebu aku tak bisa berharap untuk tetap manis setelah sekian lama bukan? Bila ini sapi aku tak bisa berharap ia tetap menghasilkan susu yang sama selamanya. Bila ini manusia aku tidak bisa berharap bahwa ia akan hidup abadi. Bila ini perasaan aku tidak bisa berharap ini akan tetap kuat selamanya.
Aku harus berusaha, aku harus menjaganya. Bukankah itu seharusnya kita? Apakah tepat bila aku tempatkan aku disana? Apakah tepat apa yang aku pikir dan rasakan? Apakah ini hanya melihat dari sudut panda 'aku' saja?
Apa sungguh aku tidak dewasa? Apa sungguh aku manja? Apa sungguh aku pemarah? Apa sungguh aku tidak pengertian? Apa sungguh bersamaku melelahkan? Akupun harus berpikir ulang, meski tak tahu apa ia berpikir atas apa yang aku ungkapkan. Apakah tepat menempatkan aku disana?
Saat matahari tak lagi ada, aku hanya sedih dan sendiri. Aku berusaha tidak marah atau hanya sudah terlalu lelah untuk mengulang hal yang sama? Atau itu tentang rasa yang tak lagi sama? Aku bicara dengan diriku sendiri dan aku ternyata sangat sedih, aku terluka namun aku tetap berkata GPP. Aku berusaha biasa lagi, aku berusaha biasa saja. Lalu hal yang sama kembali terjadi. Aku berusaha melupakannya, aku tidak marah, tidak aku ungkapkan lagi apa yang aku rasakan.
Lalu saat matahari lain tidak lagi ada, aku kembali sedih dan sendiri, ternyata aku bukan marah, aku sedih dan menahannya, terkadang rasa sedih ini keluar dalam bentuk kemarahan, karena kekecewaan yang terpendam. Kali ini aku menahannya lebih lama, tidak mengunggapkannya dalam amarah. Aku lelah, aku tak mau tahu lagi, aku tak mau bicara lagi. Sudah cukup, bila ia pahami akan sangat baik, bila tak mampu ia pahami, mungkin ia memang tak lagi mengerti.
Aku sedih dan sendiri, menahan rasa sakit ini. Aku ingin menangis tapi berkata GPP. Betul ia bertanya mengapa, tapi aku berkata GPP. Masalah ini bukan pertama terjadi, tidak mungkin tak bisa pahami sendiri, aku lelah menjelaskan, aku lelah mengungkapkan lagi, aku lelah bila harus berakhir marah. Lalu aku akan dianggap pemarah, tidak pengertian, penuntut, dan manja yang merepotkan.
Aku sedih dan sendiri, aku menahan rasa ini. Aku semakin sedih saat tak bisa mengungkapkannya dan hanya bisa berkata GPP. Tapi aku sungguh tidak baik-baik saja, aku sedih, aku kecewa, aku marah, aku tidak bisa bilang, aku tidak mau bilang, aku lelah, aku malas, aku tidak dipedulikan. Aku sakit.
Sakit fisik, sakit hati. Aku pikir aku spesial, aku pikir aku didahulukan, aku pikir aku prioritas, aku pikir aku penting. Tapi tidak, aku bagaimana? Aku GPP.
Tapi sesungguhnya,
Aku sedih dan aku semakin sedih saat menyadari aku tidak berkata apa-apa, saat aku harus tersenyum, saat aku harus terlihat baik-baik saja dan tidak ada orang yang akan mendengarkan aku mengapa, karena aku sendiri.
Aku menyadari satu hal, saat aku menekan rasa sedih ini, rasa sakit ini, rasa kecewa ini lebih dalam, kekuatannya semakin besar untuk keluar. Hal ini menjadi lebih menyakitkan, saat logikaku berkata tahanlah, pendamlah, lupakan saja, kamu tidak apa-apa. Namun hatiku berteriak, aku sedih, aku sakit, aku kecewa, mengapa kamu tidak mau mengerti. Mengapa bahkan diriku sendiri tidak mau mengerti, tidak mau memahami, tidak mau mendengarkannya. Mendengarkan diri ini sendiri, mendegarkan kekecewaannya.
Aku tidak menahan diri disini, didalam tulisan ini, aku menangis dan tetap sedih juga tetap sendiri. Aku akan diam saja, karena ia tidak peduli, bahkan khawatir dan tidak pula memanggilku lagi. Semakin kecewa. Biarkanlah ia dengan dunianya sendiri (aku tidak peduli).
Apa itu artinya masing-masing?
26.06.20
Sakit
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar