NO!

Setelah dua tahun berlalu, setelah semua kedekatan yang kita jalani, aku pun tahu dan aku meyakini bahwa tak mungkin semua menjadi biasa saja bagimu kini, karena semua juga tak biasa saja bagiku, tak biasa saja bagiku sedari awal aku menjalin hubungan denganmu.
Harusnya sudah aku sadari sedari dulu, harusnya sudah aku sadari sejak kau mengirimkan pesan yang salah itu kepada diriku, harusnya aku sadari bahwa itu adalah pertanda yang harus aku lihat dimana itu adalah tanda dimana aku harus membuka bukan saja mataku tetapi juga hatiku. Bukan hanya untuk membuka hatiku tapi juga melepas cengkraman rasa itu dari diri ini. Tapi aku masih belum mampu melakukannya karena disana masih tersimpan rasa dan harapan yang tersisa karena dengan semua cara manismu yang kau perlakukan hanya untukku aku merasa bahwa aku special bagimu.
Tapi setelah semua pengakuanmu yang kau katakan dengan gamblang atau dapat aku katakan kau tuliskan dengan baik dan benar bahwa kau masih memiliki rasa di hatimu bagi yang lainnya yang bukanlah diriku. Aku tahu kinilah akhirnya aku bisa melepaskan semua harapan itu secara utuh semuanya terlepas karena rasa sakit yang kau berikan.
Aku hanya berfikir tidakkah kau punya perasaan? Jika sedari awal kau sudah merencanakannya, seakan-akan semua hanya kau anggap permainan yang tak akan berbahaya yang tak akan menimbulkan luka? Seharusnya sedari awal kau katakan, seharusnya sedari awal kau tak memulai. Mungkin mudah bagimu karena kau tak memiliki rasa, tapi mudahkah bagiku? Semua kata manis yang kau katakan, semua terasa semu, semua kata manis yang kau utarakan, semua terasa pilu untukku. Tidakkah bisa kau memiliki rasa bertanggug jawab atas perbuatanmu? Mengapa kau tak mau mengatakannya langsung padaku? Mengapa kau hanya mengutarakannya lewat serangkaian kata yang kau ketikkan? Mengapa kau tak ungkapkan kata maaf dari hatimu? Tidakkah kau merasa bersalah?
Dan mengapa kini kau ingin datang kembali jika akupun tahu bahwa perasaanmu tetap sama, tetap kepadanya? Dengan tujuan apa kau kembali? Sungguh aku tak mau membencimu, sungguh karena aku tak mau perasaan ini mengikat diriku untuk kembali bertemu denganmu. Tapi kau membuatku membencimu karena dirimu yang selalu saja datang kembali meski kau tak memiliki rasa untukku. Untuk apa? Apa tujuanmu? Apa kau begitu ingin melihat kehancuranku? Terima kasih untuk segala rasa yang kau ajarkan padaku.

Tapi kini meski kau datang dengan ketulusan hati aku tak akan dapat melihatnya, dengan apapun kau kembali aku hanya ingin mengusirmu pergi menjauh dariku. Bukan karena tiada maaf bagimu, tapi karena kau tak memintanya, bukan karena aku membencimu tapi karena segala rasa kecewa yang masih ada dan karena aku tahu kau bukan datang membawa permintaan maaf karena aku tahu kau bukan datang karena ketulusan rasamu. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Poem of Love Blog Design by Ipietoon